Sahabatku Malang



Ya ituah yang terjadi dengan sahabatku yang bernama Win, seperti namanya, mungkin orang tuanya juga berharap kalau dia akan menjadi ‘pemenang’, akan tetapi itu hanya sebuah harapan. Rabu 24 Agustus 2011 yang lalu sepulang saya dari Bogor, saya mendapat kabar kalau sahabat saya yang bernama Win tadi menjadi GILA atau kata yang agak sopan sedikit adalah depresi berat. Tak disangka- sangka baru saja 2 bulan yang lalu kita masih bermain bersama, main bola, main kartu, tertawa bersama dan masih banyak lagi yang lain. Kabar menyebutkan kalau dia menjadi seperti itu gara- gara ‘ketempelan’ jin dari Jepara, karena sehari sebelum dia menjadi seperti itu dia main ke Jepara, kabar burung sih dia mau ke arah Tayu, tetapi kesasar ke Jepara. Ada juga kabar yang menyebutkan dia jadi seperti itu gara- gara permintaan dia untuk punya motor tidak dikabulkan oleh orang tuanya, ya mungkin karena kondisi orang tuanya yang tidak begitu mampu untuk membeli motor yang diinginkannya, apalagi suami dari ibunya atau ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. ***

Sabtu sore, saya ikut ayah saya pergi ke kebun untuk memeriksa kondisi kebun, di sana terdapat pohon nangka yang sudah berbuah, saya dan ayah saya bermaksud untuk membungkus nangka itu dengan karung. Seusai membungkus nangka, kami beristirahat di tepi kebun, tak berapa lama, dari arah kejauhan ada seorang memboncengkan sesuatu, semakin dekat ternyata yang diboncengkan oarang itu adalah Win, pelan motor itu melewati saya dan ayah saya, nampak wajah yang tak asing, wajah sahabatku yang nampak linglung, pucat, ‘acak-adul’-lah, sambil memegangi kaki yang penuh dengan luka yang nampak menjadi ‘borok’. Tak kuasa aku melihat pemandangan yang menyedihkan, ingin ku panggil namanya akan tetapi mulut ini serasa ada yang mengunci, berat sekali.
“Tuh lihat tuh “, kata ayahku
Tetapi masih saja aku diam, melihat dia berlalu, semkin jauh meninggalkan kami berdua.
“Ayo kita pulang !”, kata ayahku, membuyarkan lamunanku.
“Iya” , sahutku.
Di perjalanan ke rumah, saya bertanya kepadah ayah saya, kenapa kakinya penuh luka seperti itu, ternyata dia habis kecelakaan di dekat ‘pom bensin’ dekat desa saya yang berjarak ± 500 m. Setelah dia jatuh di sana entah dengan sadar atau tidak, di ‘menyeret- nyeret’ motornya sampai ke rumahnya, cerita ayahku yang membuatku semakin shock. Tak disangka- sangka, sahabatku yang baik hati, lucu, ternyata bisa ‘rusak’ seperti itu. Memang waktu berjalan sungguh cepat. Dua bulan yang lalu, saya masih bermain dengannya, tapi sekarang dia ‘asyik’ sendiri dengan duniannya, sungguh sahabatku yang malang.

*kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh penulis

Created by : sem0etabang

Iklan
By semoetabang1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s